Musibah kebanyakan memang terjadi secara tiba-tiba. Namun sesungguhnya datangnya diawali dengan banyak sebab. Salah satunya adalah dosa-dosa yang kita lakukan. Malangnya, ketika musibah telah berlalu, banyak di antara kita yang masih saja bergelimang dengan dosa bahkan jauh lebih buruk keadaannya dibanding sebelumnya.
Apa Sebab Umat Terdahulu Mendapat Siksa?
Tahukah teman-teman apa yang menyebabkan bapak moyang manusia Adam ‘alaihissalam berikut istrinya Hawa, dikeluarkan dari surga, diturunkan dari tempat nan penuh kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kebahagiaan menuju ke negeri yang penuh kesedihan, kepedihan, dan susah payah?
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ. فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي اْلأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ
ِApa gerangan yang menyebabkan datangnya air bah setinggi gunung hingga menenggelamkan penduduk bumi seluruhnya kecuali mereka yang berada di atas bahtera Nuh ‘alaihissalam?
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّوْرُ قُلْنَا احْمِلْ فِيْهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلاَّ مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيْلٌ. وَقَالَ ارْكَبُوا فِيْهَا بِسْمِ اللهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُوْرٌ رَحِيْمٌ. وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوْحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلاَ تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِيْنَ. قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ
Apa gerangan yang menjadi sebab datangnya angin yang sangat dingin lagi amat kencang menerpa kaum ‘Ad selama tujuh malam delapan hari berturut-turut, hingga mereka terkapar mati di atas bumi seakan-akan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah lapuk?
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ. سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ. فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ
Apakah sebabnya hingga kaum Tsamud dikirimi suara yang amat keras hingga mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka?
وَأَخَذَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِيْنَ. كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيْهَا…
Apa pula yang menyebabkan perkampungan kaum Luth ‘alaihissalam berikut penghuninya diangkat demikian tinggi sampai-sampai para malaikat di langit mendengar suara lolongan anjing mereka, setelah itu perkampungan mereka dibalik sehingga bagian atasnya menjadi bagian bawah, disusul dengan datangnya hujan batu dari langit?
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيْلٍ مَنْضُوْدٍ
Ada apa dengan kaum Nabi Syu`aib ‘alaihissalam hingga mereka ditimpa gempa yang sangat keras hingga mereka terkapar menjadi mayat-mayat yang berserakan?
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِيْنَ
Ada apa dengan Fir’aun beserta bala tentaranya hingga mereka ditenggelamkan di laut Merah?
فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلاً إِنَّكُمْ مُتَّبَعُوْنَ. وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُوْنَ
Kenapa pula dengan Qarun hingga ia ditenggelamkan dalam bumi beserta rumah dan hartanya?
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ اْلأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُوْنَهُ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ
Ada apa, mengapa dan kenapa dengan orang-orang terdahulu yang hancur binasa dengan azab?
Anda tentu dapat menjawabnya dengan tepat. Ya, karena dosa dan maksiat kepada Ar-Rahman.
فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
Jangan Meremehkan Dosa
Dosa dan maksiat yang diperbuat anak manusia memang mengundang kemudaratan. Kemudaratannya bagi hati seperti halnya kemudaratan racun bagi tubuh. Tidak ada satu kejelekan yang didapatkan di dunia dan di akhirat kelak kecuali karena sebab dosa dan maksiat. (Ad-Da`u wad Dawa`, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu, hal. 65)
Dan yang namanya dosa walaupun kecil tetaplah memberi mudarat, apalagi bila dilakukan terus menerus. Namun disayangkan, pada hari-hari ini kita melihat betapa kaum muslimin berenang dalam lumpur dosa dan genangan maksiat. Tak heran bila musibah datang silih berganti. Belum lama berlalu tsunami, datang gempa yang memorakporandakan beberapa negeri. Disusul banjir membenamkan jiwa dan harta. Bersamaan dengan itu, gunung meletus dengan aliran lahar panas menghanguskan. Di tempat lain, memancar lumpur panas yang menenggelamkan dan muncul wabah penyakit. Wallahul musta’an, Allah lah satu-satunya tempat meminta pertolongan.
Sangat disayangkan kaum muslimin banyak yang tidak sadar, bahkan mereka meremehkan dosa. Jangankan dosa kecil, dosa besar saja begitu mereka gampangkan. Padahal Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar kita tidak meremehkan perbuatan dosa kecil sekalipun. Sebagaimana sabda beliau n yang tersampaikan pada kita lewat sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
إِيَّاكُمْ وَ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ
Sahl bin Sa’d z mengabarkan hal yang sama. Beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ، كَقَوْمٍ نَزَلُوْا فيِ بَطْنِ وَادٍ فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ مَتَى يُؤْخَذُ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
Benar sekali ucapan sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika menyatakan: “Kalian sekarang melakukan perbuatan dosa yang di mata kalian perbuatan itu lebih tipis daripada rambut (sangat remeh, pent.). Padahal dulu di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menganggapnya termasuk perkara yang akan membinasakan.” (HR. Al-Bukhari no. 6127)
Bilal bin Sa’d2 rahimahullahu menasihatkan: “Janganlah engkau memandang kepada kecilnya suatu maksiat, akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”3 (Diriwayatkan Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam kitabnya Az-Zuhd hal. 460)
Karena itu tak patut kita meremehkan dosa dan maksiat, apapun dosa dan maksiat tersebut. Tapi sebaliknya kita selalu takut untuk berbuat dosa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalaupun tergelincir ke dalamnya, segeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menutupnya dengan kebaikan, agar hati dapat bersih kembali dari titik-titik noda.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أََخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari tertutupnya hati karena dosa dan maksiat. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.